Switch Mode

BAB 1

BAB 1

Seharusnya Sinta muak dengan senyuman yang dihadirkan wanita di depannya. Dia terlihat cantik dan begitu anggun. Khas wanita kaya yang begitu membuat Sinta iri setengah mati.

Belum lagi, semua yang melekat di tubuhnya begitu menggiurkan dan sudah lama didambakan Sinta. Pakaian dari brand ternama. Tas bermerk Dior yang dari jauh saja sudah ketahuan aslinya. Cincin berlian bermata satu yang begitu manis menghias di jarinya, sepertinya sepasang dengan anting yang dikenakannya. Tidak terlalu glamor, tetapi memancarkan cahaya kecantikan yang memukau mata Sinta.

Sedangkan dia sendiri, duduk dengan baju kaos polos dan jaket jeans yang dibelinya murah di Shopee saat flash dengan harga tak lebih dari Rp150.000. Itu pun sudah dibelinya dua tahun lalu.

Keadaan yang membuat Sinta meresa jomplang.

“Bagaimana, Mbak?”

Suara wanita itu begitu lembut dan tidak mendesak.

Seandainya saja wanita ini datang dengan tanpa kesopanan, pastilah Sinta akan mengeluarkan taringnya sekarang juga. Bisa-bisanya dia ….

“Ternyata orang kaya bisa gila juga,” ucap Sinta sambil mengangkat gelasnya. Mengisap jus jeruk yang tadi di pesannya dengan tarikan panjang.

“Mbak …” Wanita menjeda kata-katanya dengan tatapan dalam memandang Sinta. Sebelum dia berkata lagi, dia mengembuskan napas berat. “Aku serius dengan perkataanku. Aku mencintai suamimu, Mbak. Dan dengan ijin Mbak, aku juga ingin memilikinya.”

Sinta mengangkat tangannya untuk menghentikan wanita itu bicara. Diletakkannya gelas dengan sedikit kuat ke meja, hingga menimbulkan gelombang kecil pada sisa jus yang masih ada di dalamnya.

“Wanita bodoh mana yang mau dimadu,” sengit Sinta.

“Aku janji, kita bisa hidup berdampingan, Mbak,” bujuk wanita itu lagi. “Aku juga akan patuh sama Mbak. Mbak lah yang akan diutamakan dalam rumah tangga kita. Mbak yang mengatur semuanya. Aku akan menjadi adik yang baik bagi, Mbak.”

“Kamu sinting!” umpat Sinta.

“Tolong pikirkan, Mbak.”

Wanita itu menyentuh ujung jemari Sinta yang ada di atas meja. Namun, Sinta buru-buru menarik tangannya seolah tangan wanita itu penuh virus yang dapat menghancurkan tubuhnya seketika.

“Aku mau pulang.” Sinta menarik tas merk Dior yang diletakkannya di kursi sebelahnya. Menyandangkannya ke bahu dan melontarkan pandangan jijik kepada wanita itu.

Berbeda dengan tas milik wanita itu, tas Sinta hanya kw kesekian yang harganya hanya 60 ribu di pasar, dengan warna yang mulai memudar.

“Mbak, boleh menikmati semua yang aku miliki jika Mbak mengijinkan aku menikah dengan Mas Wisnu.”

Ucapan wanita itu menghentikan tubuh Sinta yang berencana ingin melangkah.

“Uang, rumah, mobil, apa yang aku miliki, juga milik, Mbak,” lanjut wanita itu. “Mbak gak akan kesusahan lagi. Semua yang Mbak inginkan, bisa Mbak miliki.”

Sinta milirik sejenak ke arah wanita itu. Tubuhnya bediri menyamping dari wanita itu ketika ingin melangkah. Setengah dirinya berpura-pura tidak peduli, tetapi dia mendengarkan. Hatinya goyah.

“Aku juga akan mengurus, Mbak, anak-anak dan Mas Wisnu dengan baik. Mbak hanya menjadi ratu di istana kita.”

“Aku pergi.” Suara Sinta tidak segarang tadi.

***

Suara gedoran di pintu mengagetkan Sinta.

Dia baru saja mematikan kompor setelah sebelumnya memasak sayur bening dan ikan asin untuk menu makan malam.

Sejenak Sinta menutup matanya dan menarik napas dalam. Seperti punya firasat, Sinta tahu siapa yang ada di balik pintu luar rumahnya.

Ragu dia berbalik dan berjalan pelan. Tangannya diremas-remas dengan keringat yang mengalir deras. Bukan hanya karena keringat setelah satu jam berjibaku dengan masakan dan membersihkan dapur, tetapi juga rasa gugup yang menggedor-gedor dadanya.

Suara ketukan di pintu kembali terdengar dengan tidak sabar. Suara teriakan, “Ibu Sinta, kami tau kamu ada di dalam!” memekakan pendengaran Sinta.

Saat melewati kamar anaknya, Joshua yang baru berumur 10 tahun, anak itu sedang berada di pintu kamarnya dengan tatapan penasaran dan juga takut. Di belakang Joshua ada adiknya yang berumur 5 tahun yang sedang memegangi pinggang kakaknya karena takut.

“Ibu, itu siapa?” tanya Joshua pelan.

“Kamu masuk kamar dan tutup pintu,” perintah Sinta dengan suara yang sama pelannya dengan Joshua. Dia melotot pada anaknya agar anak itu segera mengikuti apa yang dia minta.

Joshua paham dengan perintah tegas ibunya. Walaupun terlihat ragu, akhirnya dia memundurkan tubuhnya dan menutup pintu.

Sinta kembali berjalan menuju pintu depan dengan perasaan resah. Berkali-kali dia menggosok tengkuknya yang jenjang. Rambutnya digelung asal dengan anak-anak rambut yang mencuat dan lengket di sebagian wajahnya. Di depan pintu, Sinta begitu ragu untuk menekan handle pintu dan dibukanya. Dia berpikir keras, apakah dia harus membuka pintu itu atau dibiarkan saja.

Ketukan memaksa di daun pintu itu terasa berbeda dari biasanya. Itulah yang membuat Sinta resah. Seakan dia yakin, siapapun yang ada di balik pintu itu tidak akan menyerah dan pergi jika pintu itu tidak dibuka.

“Ibu Sinta!” Kembali suara menggelegar terdengar dengan disertai gedoran kuat.

Satu menit, lima menit, Sinta bergelut sendiri dengan pikirannya.

“Buka sekarang atau saya dobrak!”

“I…iya,” cicit Sinta. Suara Sinta seakan tercekik di tenggorokan dan dia yakin lelaki itu tidak mendengarnya.

Suara dentuman terdengar dari bagian bawah pintu.

Sinta semakin panik. Buru-buru dia menjulurkan tangannya membuka grendel pintu. Memutar anak kunci di knop pintu dan membukanya.

Wajah merah padam menyambut Sinta dengan begis. Tatapan seperti harimau yang sedang murka setelah buruannya direbut. Siap untuk menyerang.

“Kenapa tidak dari tadi dibuka!” semprot lelaki itu. Dadanya terlihat turun naik menahan kesal. “Sengaja ingin menghindari saya lagi?”

“Bukan begitu, Pak,” jawab Sinta tergagap. “Saya tadi ….”

“Alahhh, jangan banyak alasan,” potong lelaki bertubuh tambun dengan wajah seperti lubang-lubang di bulan bekas jerawat batu. Hidungnya pesek dan lebar, dengan mulut bau tembakau. Bahkan, dari tempatnya berdiri, Sinta dapat menciumnya.

Sinta tertunduk memperhatikan ujung kakinya yang putih dan tampak kasar.

“Ibu harus bayar hari ini,” kata lelaki itu dengan nada suara yang tidak dikecilkan. Seakan dia ingin menyiarkan kepada seluruh tetangganya, bahwa dia memiliki utang segunung dan tak tau malu tidak mau membayar.

“Hari ini belum bisa, Pak,” cicit Sinta.

“Apa katamu?!” teriak lelaki itu.

“Hari ini saya belum bisa bayar,” ulang Sinta dengan ragu. “Saya belum punya uang.”

“Bacot!” gelegar lelaki itu. “Kemarin kamu bilang gitu, seminggu lalu kamu bilang gitu, dua bulan lalu juga. Sebenarnya kamu mau niat bayar atau gak.”

“Saya niat bayar, Pak. Tapi belum punya uang.”

“Kalau gak sanggup bayar, gak usah ngutang!”

“Pak, kasih saya tempo waktu lagi,” hiba Sinta.

“Gak ada!” sentak lelaki itu. Membuat Sinta harus terlonjak selangkah ke belakang. “Aku akan mengambil barangmu untuk jaminan.”

“Tapi rumah saya gak ada isinya, Pak. Gak ada yang bisa jadi jaminan.”

Mata lelaki itu melewati punggung Sinta. Dia memperhatikan keadaan dalam rumah Sinta. Matanya liar mencari, sampai akhirnya terhenti pada sesuatu.

Sinta yang memperhatikan tingkah lelaki itu sedari tadi, membalikan tubuhnya. Turut memperhatikan arah pandangan lelaki itu.

“TV itu bisa jadi jaminan,” ucap lelaki itu bersamaan dengan Sinta yang menyadari arah incaran tatapan penagih utang itu tadi.

“Ja…jangan Tv saya, Pak,” bujuk Sinta. Dia hampir saja menangis. Air matanya sudah terasa menggenang dan suaranya bergetar. “Kasiani anak saya. Cuma itu yang jadi hiburan mereka.

“Minggir!”

“Pak, saya mohon ….”

Punggung tangan lelaki itu mendorong tubuh Sinta ke samping. “Parto, Supri, kita bawa TV-nya.” Lelaki itu berbicara dengan dua orang yang sedari diam dan hanya menunggu di halaman rumah. Duduk berjongkok di teras rumah sambil merokok.

Ketiga orang itu memasuki rumah Sinta tanpa perlu melepaskan alas kakinya. Berjalan tegas menuju ke arah televisi 32 inchi yang diletakkan di atas meja kecil di ruang tengah.

“Pak Kasam, saya mohon. Saya janji minggu depan akan bayar.”

“Bawa.” Lelaki yang bernama kasam itu menunjuk ke arah televisi mati yang tinggal tiga langkah darinya. Membiarkan Parto dan Supri mengerjakan perintahnya.

“Pak dengarkan saya ….” bujuk Sinta lagi di samping Kasam. Dia mencoba memegangi lengan lelaki berkulit coklat itu, tetapi segera tertepis kasar.

“Parto, itu biar Supri yang urus,” kata Kasam yang melihat dua anak buahnya sedang melepas kabel. “Kamu bawa sepeda itu saja.”

Sinta terpekik dan langsung berlari menuju sepeda kecil yang sering dipakai Joshua setiap ke sekolah. Dia merentangkan tangannya untuk menghalangi Parto, lelaki bertubuh kurus dengan wajah seperti tikus. Matanya cekung dengan dagu yang lancip.

“Jangan ambil ini,” kata Sinta. Matanya mengawasi Parto yang kini berada di hadapannya dan memandangnya dengan tidak sabar.

“Saya gak mau bersikap kasar ya, Bu,” kata Parto yang ternyata memiliki suara yang berat. Rasanya begitu terbalik dengan postur tubuhnya. “Sebaiknya Ibu minggir.”

“Parto langsung saja, jangan banyak bacot!” teriak Kasam.

Parto mengangguk halus. Lalu dia memegangi satu lengan bahu Sinta untuk membuatnya menyingkir.

Sinta bertahan.

Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Saat Parto mengerahkan lebih tenaganya, tubuh Sinta terderong hingga jatuh terduduk di lantai. Membuat tulang ekor wanita terasa sakit hingga menembus ujung kepala.

Tangis Sinta sudah tidak tertahan lagi. Dia meraung.

***

Wisnu mendapati pintu rumahnya yang terbuka lebar saat dia pulang dari kerja. Matanya disuguhkan dengan pemandangan rumah yang kacau balau.

Terlihat Sinta terbaring dengan tubuh miring bertumpukan satu lengan di lantai. Dia tidak bergerak, tetapi terdengar isakan kecil dari mulutnya.

“Sin, ada apa?”

Wisnu langsung menghambur masuk dan menghampiri tubuh istrinya. Dibalikannya tubuh istrinya yang lemas. Mata wanita itu terus mengalirkan air mata. Wajahnya kusam dengan kelopak mata yang mulai membengkak. Rambutnya aut-autan dan terlihat lembab.

Wisnu mencoba membangunkan istrinya, tetapi ketika sudah mulai kokoh duduk, Sinta mendorong Wisnu kuat hingga membuat lelaki itu terjengkang.

“Ini semua karena kamu, Mas!” teriak Sinta nyaring. Urat-urat di lehernya sampai kentara terlihat.

“Sin, ceritakan ada apa?” tanya Wisnu lembut sambil bangkit dan duduk dengan satu kaki tertekut. Tangannya terulur ingin menyentuh wajah istrinya.

“Jangan berlagak bloon.” Sinta menepis tangan Wisnu yang hampir mencapai wajahnya.

Wisnu menarik napas dalam dan diembuskan kuat. Sebenarnya dia sudah dapat menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apalagi, saat menyapu ruang tengah tadi dengan pandangannya, dia tidak menemukan televisi di atas meja kayu yang sengaja dibuatnya lima tahun lalu.

“Siapa yang datang, Sin?” tanya Wisnu lemah.

Sinta tidak langsung menjawab. Dia membuang pandangannya dari suaminya. Dia juga merasa lelah dengan sisa tangis yang membuat dadanya sesak. Belum lagi hidungnya terasa dipenuhi air dan menyumbat pernapasan.

“Pak Kasam,” sahut Sinta akhir ketus.

Sinta membersit ingusnya dengan ujung daster yang dikenakannya. Terasa sedikit lega ketika dia mampu mengeluarkan ingus yang memenuhi rongga hidung. Walau sesaat kemudian ingus itu rasanya kembali memenuhi hidungnya.

Enam bulan lalu Sinta dan Wisnu terpaksa harus meminjam uang ke Pak Kasam, rentenir yang berada di kampung itu dengan bunga yang sangat mencekik. Lima puluh persen bunga yang harus dibayar mereka dari pinjaman pokoknya. Sialnya, saat tidak bisa membayar, bunga itu berbunga saat mereka tidak bisa membayar cicilan setiap bulannya.

Tiga bulan pertama mereka lancar dalam membayar cicilan tersebut, walaupun saat mengumpulkan uangnya rasanya ngos-ngosan. Belum lagi, tagihan yang ada bukan hanya dari Pak Kasam, tapi ada cicilan pinjol yang harus dibayar, pay latar yang harus dilunasi.

Semuanya begitu mencekik.

Utang dari Pak Kasam terpaksa mereka pinjam karena saat itu Joshua harus masuk rumah sakit karena terkena ISPA. Tidak semua biaya bisa tercover BPJS dan biaya selama menunggu dan pulang-pergi rumah sakit juga jadi perhitungan berat.

Selama dua minggu, Sinta dan Wisnu harus bolak-balik ke rumah sakit karena penyakit Joshua begitu parah.

Sebelumnya, Sinta memang sudah berutang dengan pinjol dan pinjaman di market place. Selain untuk kebutuhan hidup, juga wanita itu tidak tahan untuk membeli sesuatu yang ditawarkan di toko online tersebut.

Barang-barang yang dibeli Sinta memang tidak mahal, tetapi dia tidak memperhitungkan setiap kali membelinya. Dia merasa murah dan sanggup membayar, padahal lupa ada banyak cicilan yang belum dilunasi. Jadilah semuanya menumpuk.

Wisnu hanya bisa menasehati istrinya untuk menahan diri. Sinta memang bisa, tetapi ada kalanya–sering–dia tidak bisa menahan diri.

Pertama kali mendengar cicilan utang yang dipaparkan Sinta, lelaki bermata sayu dengan tubuh tegap dan tinggi itu merasa shock. Namun, dia tidak bisa marah. Wisnu tidak pernah marah. Dia hanya terdiam dan mencari cara menyelesaikan masalah di dalam pikirannya. Tidak menyulitkan istrinya.

Sepulang kerja, Wisnu biasanya menjadi ojol hingga jam 10 atau 11 malam. Hari Minggu, ketika dia libur bekerja, dia memilih untuk tetap bekerja dengan menjadi helper tukang bangunan di siang hari dan malamnya kembali mencari rejeki merentas jalanan.

Dia tidak pernah mengeluh. Hanya menjalani dengan sabar. Tanpa peduli tubuhnya sudah begitu lelah dengan istirahat yang sedikit.

Hanya saja, hidup tetap saja menampar keras pada keluarga mereka.

“Aku sudah lelah dengan semua ini, Mas.”

Sinta mengembalikan kesadaran Wisnu yang tadi sempat melamun dan terjadi kesunyian.

Dilihatnya istrinya itu bangkit dan berjalan dengan lemah menuju kamar.

“Sin …,” panggil Wisnu, tetapi istrinya cuek dan tetap melangkah masuk menuju kamar. Menghempaskan pintu dengan suara berdebam nyaring.

Wisnu mengusap wajahnya. Dia pun sudah lama merasa lelah.

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

Status: Ongoing Author: Artist: Dirilis: 2024 Native Language: Indonesia
Sinta sudah lelah jadi miskin. Hidup serba kekurangan dan selalu menahan diri dari apa yang diinginkan. Dia ingin berubah, jelas. Namun, dia bisa apa. Tidak punya pengalaman kerja dan ijazah. Saat usia 17 tahun, dia memilih untuk berhenti sekolah dan menikah dengan lelaki yang dipacarinya sudah satu tahun. Pernikahan mereka karena cinta, karena itu Sinta rela mengorbankan masa depannya. Menikah dengan lelaki yang baru lulus SMA dan langsung bekerja sebagai office boy di perusahaan swastaswasta, Wisnu. Jangan salah, Wisnu lelaki baik, penyabar, dan sangat mencintai Sinta. Akan tetapi, ternyata hidup tidak cukup hanya dengan cinta. Butuh biaya yang semakin tahun kian mencekik. Cinta bisa terkikis ketika utang makin menumpuk dan biaya hidup jarang mencukupi. Sinta lelah dan dia sudah muak dengan hidupnya. Jalan keluar itu lalu ada. Seorang wanita datang untuk memintanya berbagi suami. Namanya Aya Ayudia Wicaksono. Wanita kaya yang jatuh cinta pada suaminya itu, mampu memberikan kemewahan yang sudah lama diimpikan Sinta. Dia juga berjanji, bersedia menjadikan Sinta Ratu dan dia hanya sebagai selir, selalu menjadi nomor dua. Kekayaan Aya adalah kekayaan yang bisa dinikmati oleh Sinta juga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset