Switch Mode

MEMBIARKAN DIRI TERLENA, MESKI ITU TERASA SALAH

MEMBIARKAN DIRI TERLENA, MESKI ITU TERASA SALAH

“Katakan, Nou, kenapa kamu berubah?”

Kamu berdua duduk di ujung ranjang memandang keluar melalui jendela kaca. Langit biru dengan awan kecil menyebar menghiasi pemandangan kami. Jendela yang tadi tertutup oleh tirai tipis transparan, kami sibak agar lebih leluasa memandang.

Hatiku telah lega. Beban yang selama ini menggelayuti dadaku karena menikahi Alfaridzky dan meninggalkan Izza, telah lepas. Seharusnya, ketika empat tahun lalu aku bertemu Izza untuk terakhir kalinya, ketika dia meminta penjelasan, aku melakukan ini. Mengatakan minta maaf karena pergi darinya. Mungkin pertemuan kami, tidak akan menimbulkan kecemasan berlebih.

“Apa maksudmu dengan aku berubah?” Aku berpaling menatap Izza.

Izza menelengkan kepalanya. Sebelah alisnya terangkat. “Apa kamu merasa tidak berubah?”

“Aku bukan dukun yang bisa mengerti maksudmu.”

“Nou yang aku kenal, akan langsung melabrak wanita yang mencoba mengambil lelakinya. Bukannya mencari jalan berputar.”

“Aku cuma gak mau ribut-ribut.”

“Benarkah?” Suara Izza menggantung seolah tidak mempercayai perkataannya. “Kalau begitu aku memang tidak mengenal kamu lagi.”

“Mungkin usia membuat kita berubah.” Aku memandang Izza lagi dan mengembangkan senyum. Mencoba memperlihatkan bahwa aku sedang berusaha bijak.

“Atau ada suatu masalah yang menghalangimu melabrak langsung istriku?”

Ekspresi wajahku tak bisa kutahan. Aku terhenyak. Dan itu membuat Izza memajukan kepalanya dan mengamatiku penuh selidik.

“Mau cerita?” tanya Izza.

Pikiranku sedang sibuk memikirkan sebuah alasan yang tepat untuk menjawab pernyataan Izza, bahwa dia salah. Namun, tak ada ada satu kebohongan pun yang terlintas.

100, 99, 98, 97, 96, 95, 94

“Bukankah kamu harus pergi hari ini? Jam berapa penerbanganmu?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana kalau aku menundanya satu hari lagi?”

“Dan membiarkan pasangan kita bersenang-senang di sana?”

Izza mengangkat bahu. “Aku bisa menukar apapun demi bersamamu.”

100, 99, 92, 80, 95, 71

“Jangan ngaco, Za. Kita baru berbaikan dan kita sudah menikah.”

“Aku serius, Nou.” Suara Izza dalam.

Inhale. Exhale

Exhale. Inhale.

100, 71, 90, 99, 82, 64, 71, 98

“Aku harus menjemput Naya sekolah,” kataku dengan suara terbata. Berdiri dan mengambil langkah agak jauh agar dia tidak bisa menahanku seperti tadi.

“Aku akan menunggu di sini, jika kamu berubah pikiran.”

Perutku bergolak seakan ada ribuan kupu-kupu mengepak di dalam sana.

Aku tidak berbalik lagi memandang Izza. Berhenti sebentar di meja panjang untuk mengambil tasku, lalu menuju pintu kamar.

Saat membuka pintu, entah kenapa aku tersenyum.

***

Masih lima belas menit lagi saat bel pulang sekolah Naya terdengar. Cuaca sedang terik, jadi aku memutuskan untuk menunggu di mobil saja dulu sebelum akhirnya keluar ketika anak-anak TK itu keluar.

Hatiku gelisah. Sial. Aku memikirkan tawaran Izza.

Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa aku lemah padanya?

Karena itu empat tahun lalu, saat dia berupaya menemuiku, aku mengabaikannya. Aku takut akan berlari padanya, meninggalkan Naya yang baru berusia satu tahun dan mengecewakan orang tuaku. Alasan lain, aku tidak bisa menghadapinya yang terluka.

Berkali-kali aku membuang pikiran untuk berbalik dan mengetuk kembali pintu kamar Izza saat keluar dari hotel, melajukan mobil menuju sekolah Naya dan saat memarkirkan mobil di sekolah ini. Aku tidak boleh tergoda. Memohon berulang-ulang pada setan di kepalaku agar tidak menampilkan wajah Izza di benakku.

Mencoba menyibukan diri, aku mengambil handphone dalam tas. Mengusap layarnya untuk membuka aplikasi apapun. Namun, aku tertegun dengan notifikasi merah di icon WhatsApp. Mengambangkan jempol di atas aplikasi hijau itu dengan perasaan ragu.

Bagaimana kalau Izza mengirim pesan?

Setelah beberapa detik aku gamang dengan perasaanku, kuputusan untuk menekan aplikasi WA. Ada 10 pesan yang kuterima dan belum kubaca. Tidak ada pesan dari Izza. Namun, pesan Arifin ada.

Aku tidak  membuka pesan Arifin, hanya membaca pesan terakhir yang dia kirim di layar WhatsApp.

[Mbak, lagi sama siapa di hotel tadi]

Tanpa sadar aku menahan napas membaca pesan itu. Merasa panik, apa yang harus aku katakan. Sekarang, aku benar-benar meyakini ketololanku karena harus lari, daripada menghadapi suami iparku itu dengan santai. Toh, selama ini aku bisa berbicara dekat dengannya.

Cepat-cepat aku mematikan handphone dan memasukan kembali ke dalam tas, ketika tak ada alasan yang terlintas untuk membalas pesan itu. Aku meletakkan daguku di atas stir dan memandang ke depan dengan tatapan kosong.

Sekarang aku hanya bisa merutuki ketololanku sendiri, karena tidak bisa berpikir panjang. Belum lagi, wajah Izza kembali terbayang.

Sekitar sepuluh menit berlalu dalam kekosongan, pintu sekolah terbuka lebar. Anak-anak kecil yang lucu dan manis keluar berhamburan. Aku segera keluar dari mobilku dan mendesah lega. Setidaknya aku sedikit terbebas dari kekalutan.

Aku mengambil posisi tak jauh dari pintu keluar, di samping tiga ibu-ibu berpenampilan rapi dari pakaian brand mahal. Kami saling memamerkan tawa seolah pertemuan kami begitu membahagiakan.

“Nou, lama baru kelihatan?” tegur wanita berambut coklat dengan rambut curly sempurna. Kacamata coklat bertengger manis di hidungnya. Dia Merliana, istri seorang DPRD yang lumayan berpengaruh. Dia juga menjadi ketua wali murid sekolah ini. Usianya sudah 40 tahun, tetapi wajahnya masih terlihat muda.

“Baru seminggu, lho, Mer,” jawabku dengan senyum palsu yang terasa menyiksa, “aku gak jemput Naya. Segitunya kamu udah kangen sama aku aja.”

“Gak ada kamu, genk ibu-ibu kita gak lengkap, sih, Nou,” sahut Ratu yang hari ini menggerai rambut indahnya yang panjang sepinggang. Dia mengenakan pakaian santai, hanya jeans dan kaos. Namun, sepatu Louboutin perak dengan tinggi tujuh sentimeter, membuat penampilannya tetap berkelas. Usia kami sepantaran, 33 tahun.

“Kamu juga gak ada kabar.” Merliana menambahi. “Gak komen apa-apa lagi di grup kita. Padahal, lagi ada pembicaraan seru.”

“Pandu!”

Pembicaraan kami sedikit terhenti, ketika Ryana berteriak saat melihat anaknya. Wanita anggun dengan wajah keibuan dan memiliki bobot lebih besar dari kami semua, berlari kecil menyambut anaknya. Usianya sudah 37 tahun dan dia seorang single mother. Mengabdikan seluruh hidupnya pada anaknya setelah bercerai dua tahun lalu, meski dia seorang pebisnis restoran yang sukses di kota ini.

“Aku baca dan ikut ketawa gosip kalian, cuma aku lagi gak selera nimbrung,” kataku menjawab perkataan Merliana yang tadi tertunda.

“Kamu gak sakit, kan, Nou?” tanya Ratu tampak khawatir. Namun, perhatiannya teralih saat anaknya menyeruduk kakinya. Dia menunduk dan mencium pipi anak lelakinya yang bertubuh gembul.

“Aku lagi gak selera ngapa-ngapain.” Karena pertemuan dengan Izza menyita pikiranku.

“Kamu lagi gak ada masalah, kan, Nou?” Ryana sudah bergabung bersama kami dan dia kini memandangku dengan tatapan menyelidik.

Kepalaku menggeleng menjawab pertanyaannya. Berbohong.

“Lagi bosen. Sepertinya butuh healing.” Aku tertawa

“Kita liburan lah sehari tanpa anak-anak, bagaimana?” kata Ratu dengan raut antusias. “Udah tiga bulan kita gak liburan bareng.”

Ryana yang langsung menggeleng tegas. Merliana tampak mempertimbangkannya.

Mengabaikan mereka, tatapanku terpaku pada Naya yang terlihat berlari sambil melompat-lompat. Tangannya sedang bergandengan dengan seorang anak laki-laki yang wajahnya hampir seperti wajah Merliana, kecuali bagian mata dan bibirnya. Dia memang anak Merliana yang bernama Devano. Kedua anak itu memang akrab.

Aku melambai pada Naya yang melihat ke arahku. Dia tersenyum lebar dan menarik tangan Devano untuk berlari bersamanya. Menghampiriku. Tangan mereka baru terlepas saat berada di hadapanku dan Merliana.

“Bagaimana sekolahnya, Sayang?” Aku mengusap kepala Naya dan mendekatkannya di tubuhku.

“Aku pergi duluan, ya, mertua lagi di rumah,” kata Ratu. “Kita atur rencana di grup, deh, kalau memang oke.”

Ratu menjauh sambil melambai pada kami. Tubuh Ratu seperti model dengan tinggi 173 centimeter. Di antara kami berempat, aku lah yang terkecil. Hanya 160 centi. Terkadang aku malu berjalan di samping Ratu, apalagi saat dia mengenakan high heels.

“Aku juga harus pergi sekarang,” kata Merliana.

“Aku juga,” Ryana menimpali. “Tapi, Nou, kalau kamu punya masalah, tolong cerita sama kami. Jangan menelannya sendiri. Kami bisa diandalkan.” Ryana memegang bahuku.

Merliana mengangguk membenarkan perkataan Ryana. Aku membalasnya dengan tersenyum, berharap dengan senyuman itu bisa menenangkan mereka bahwa aku tidak apa-apa.

“Iya, aku pasti akan cerita kalau ada masalah,” dustaku.

Kami akhirnya berpisah menuju mobil masing-masing. Aku menggandeng Naya dan dia berceloteh tentang sekolahnya. Aku tidak benar-benar mendengarkan, karena pikiranku kembali berkelana.

Setelah masuk ke mobil, aku memeriksa handphone kembali sebelum menyalakan mobil. Menemukan pesan Izza saat membuka WhatsApp. Membuka pesannya dan tertegun sendiri.

[Aku menunggumu, Nou]

“Ma, bolehkan aku tidur di tempat Nenek Rani hari ini?” tanya Naya membuyarkan pikiranku.

Kepalaku berpaling pada Naya dengan terkejut.

“Aku kangen Kakek.”

Oh Tuhan, kenapa Kau membuat seolah  semesta mendukung pertemuanku dengan Izza?

Hello! Pasangan Kita Selingkuh

Hello! Pasangan Kita Selingkuh

Status: Ongoing Author: Artist: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesia
Nouri menemukan suaminya berselingkuh darinya. Dengan perasaan hancur, dia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan. Mengumpulkan bukti dari affair itu. Dia tidak menginginkan rumah tangganya hancur. Apa kata orang. Selama ini, rumah tangga mereka dianggap sempurna. Bukti-bukti itu nantinya akan diberikan Nouri pada suami perempuan itu. Memintanya untuk memisahkan mereka. Tapi, bagaimana jadinya saat bertemu dengan suami dari perempuan itu, ternyata lelaki itu adalah bekas mantannya? Suasana jadi rumit, karena cinta tidak pernah sirna di antara Nouri dan mantannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset