Switch Mode

BAB 2

BAB 2

Ketukan tiga kali terdengar dari arah pintu, membuat Aya mendongakan kepalanya. “Masuk.”

Senyum Aya seketika mengembang saat melihat lelaki dengan pakaian office boy masuk. Lelaki itu berperawakan tinggi sekitar 178 CM. Tubuhnya proposional, walau bagian perut terlihat sedikit membuncit. Hanya sedikit, dan itu pun harus benar-benar dilihat dengan seksama. Apalagi kemeja yang dikenakan lelaki itu bukan slim fit yang dapat memperlihatkan bentuk tubuh yang sesungguhnya.

Hal yang paling disukai Aya darinya adalah senyuman dan tatapannya begitu lembut. Selalu terkesan ramah dan membuat siapapun yang berada di sampingnya akan merasa nyaman dan terlindungi.

Bukan, bukan karena Aya atasannya yang membuat lelaki itu bersikap seperti itu padanya. Dalam banyak kesempatan yang pernah diperhatikan Aya, pembawaan lelaki itu memang begitu adanya.

“Pagi, Mas Wisnu,” sapa Aya. Tatapannya mengikuti setiap gerak Wisnu. Hanya di saat inilah dia benar-benar bebas menikmati wajah Wisnu yang rupawan.

Seandainya saja lelaki yang sedang berjalan menuju ke arahnya itu dan sedang memegang nampan yang berisi kopi di kedua tangannya, terlahir dari keluarga berada dan mampu untuk merawat dirinya dengan maksimal, Aya yakin banyak yang akan menggilainya.

“Pagi, Mbak Aya,” sahut Wisnu.

“Aku udah pernah bilang, lho, Mas, gak perlu panggil aku dengan embel-embel Mbak.” Aya melipat kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya.

“Gak enak sama karyawan lain, Mbak,” kilah Wisnu. “Apa lagi kedudukan saya hanya seorang office boy.”

“Tapi kita udah janji saat gak ada orang, kita bisa bersikap selayaknya teman.”

Wisnu hanya tersenyum menanggapi. Kini dia sudah berada di depan meja Aya yang terbuat dari kayu jati dengan bagian depan jog yang dibuat ukiran kotak-kotak minimalis. Meletakkan kopi yang dibawanya di belakang laptop yang sedang digunakan wanita itu. Menyajikan sandwich daging sapi asap yang tadi juga dibawanya.

“Mbak Aya juga manggil saya Mas.” Wisnu terkekeh mencoba untuk mengubah suasana hati Aya yang masih cemberut.

“Itu karena Mas lebih tua dari saya.”

“Kan, katanya teman.”

Merasa kata-katanya dibalikan oleh Wisnu, Aya mengeluarkan tawa kecil. Tentu saja cemberutnya hanya kepura-puraan. Bagaimana mungkin dia bisa marah pada lelaki itu, padahal setiap kehadirannya begitu didambakan.

Masih teringat oleh Aya satu tahun lalu saat pertama kali lelaki yang memiliki model rambut quiff haircut itu memasuki pikirannya.

Saat itu, malam yang tidak akan pernah dilupakan oleh Aya.

Setahun lalu, Aya memiliki tunangan yang sudah mengikat dirinya sejak dia berusia 17 tahun. Kedua keluarga berencana bersatu dan digadang-gadang akan membuat perusahaannya semakin menancapkan diri di pasar Asia.

Memang pertunangan Aya dan tunangannya, Ganjar Agustiawarman Sardjono, berawal karena bisnis. Namun, semakin hari Aya jatuh cinta setengah mati padanya. Menginjak dewasa, saat Aya harus berkuliah ke luar negeri, Ganjar pun rela menunggunya. Dan ketika akhirnya pulang kembali setelah lulus dengan menyandang gelar MBA, mereka berencana menikah sambil wanita itu belajar untuk mengambil alih perusahaan dari ayahnya yang ingin pensiun.

Aya mengenal Ganjar sebagai lelaki yang baik, lembut dan perhatian. Selalu menjaga kehormatannya di atas segalanya. Impian banyak wanita dari seorang lelaki yang bertanggung jawab, tampan dan memiliki karir cemerlang.

Hanya saja, hal tersebut ternyata sebuah kepalsuan. Ganjar hanya memperlihatkan sikap yang diinginkan Aya padanya, tanpa benar-benar mengetahui siapa sebenarnya lelaki itu.

Malam itu Aya harus lembur sendirian untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Di luar perkiraan yang telah ditentukan, ayah Aya, Bagas Putra Anggoro, berniat untuk mempercepat masa pensiunnya. Selain karena kesehatannya, dia merasa Aya sudah cukup bisa untuk menggantikan perannya memimpin perusahaan Group Ang Jaya.

Group Ang Jaya merupakan perusahaan besar nasional yang membawahi perusahaan properti, retail, jasa konstruksi dan komunikasi, yang cabang menyebar hampir di seluruh kota provinsi di Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Tadinya Aya berniat untuk dijemput Ganjar setelah pekerjaannya selesai. Lelaki itu menyanggupinya.

Sekitar jam 10 malam, pintu kantor Aya diketuk. Ganjar masuk dengan wajah kuyu. Ia mengenakan jaket bomber warna coklat yang dulu pernah diberikan Aya sebagai oleh-oleh saat dia bepergian ke New Zealand, dipadukan dengan celana stretch fit jeans yang menghias pas di kaki jenjang lelaki itu.

Hal yang tidak diduga Aya dengan kehadiran Ganjar adalah lelaki itu mabuk. Bau minuman menguar kuat saat lelaki itu semakin mendekati dirinya.

“Halo, Babe,” sapa Ganjar. “Sudah siap pulang?”

“Kamu mabuk?” Suara Aya meninggi tidak percaya.

Bukannya Aya tidak pernah minum dan membenci hal itu sampai dia harus meninggikan suaranya. Namun, malam ini malam ini mereka juga sudah berjanji untuk nonton bersama. Mencuri waktu Aya yang sangat sedikit untuk kebersamaan di tengah tugas yang banyak ditumpukan padanya.

“Aku hanya minum sedikit.” Ganjar berkilah.

“Yakin kamu bisa menyetir dengan kondisi seperti itu?” Aya menghela napas. Sebenarnya dia menginginkan Ganjar yang sadar sepenuhnya, tanpa ada terkontaminasi oleh minuman. Dia lelah saat ini, sangat lelah. Setidaknya, selama dalam perjalanan dia bisa mengistirahatkan diri di dalam mobil.

Kalau begini, bisa-bisa dia harus menggantikan Ganjar untuk menyetir. Dan acara nonton mereka terpaksa batal.

“Bisa,” sahut Ganjar, “buktinya aku sampai di sini.”

“Memang kamu dari mana?”

“Sambil nungguin kamu, aku tadi ke club sama teman-teman.”

“Apa kalau aku nggak nelpon, kamu bakal lupa jemput aku?”

“Nggak lah.” Buru-buru Ganjar menjawab.

“Buktinya kamu telat satu jam. Aku minta kamu jemput jam sembilan, Jar.”

Ganjar membuang pandangan sejenak. Lalu, sesaat kemudian dia kembali menatap Aya dengan tersenyum. Dia melangkah maju untuk semakin mendekat pada Aya, hingga jarak mereka tinggal beberapa centi saja.

Tangan Ganjar terulur meraih pinggang Aya hingga jarak mereka sudah tidak ada lagi.

“Maafkan aku, Babe,” kata Ganjar lirih. Matanya dibuat sayu agar hati Aya luluh.

Aya mendesah pelan untuk meredakan kegusarannya. “Oke, aku juga minta maaf karena bersikap berlebihan. Aku cuma capek.”

“Aku merindukanmu, Sayang.” Napas Ganjar terasa menderu di telinga Aya. Wajah mereka saling berhadapan hingga ujung hidung masing-masing hampir saja menempel.

Sedetik kemudian, bibir Ganjar sudah melumat bibir Aya dengan penuh nafsu. Awalnya lembut, hingga akhirnya ciuman itu akhirnya menuntut dan menggebu.

Aya membalas ciuman itu dan berusaha mengimbangi ciuman Ganjar yang mendesak. Namun, perlakuan Ganjar malam ini terasa berbeda. Tangan Ganjar juga turut bergerilya. Menyentuh punggungnya, turun ke bokongnya, lalu mengusap paha hingga dengan kasar mengangkat rok span selutut yang dikenakan Aya. Merayapkan tangannya nakal pada bagian dalam pahanya dengan cepat, hingga hampir saja menyentuh selangkangan wanita itu.

“Ganjar! Apa yang kamu lakukan!” Aya melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Ganjar kuat.

Akan tetapi, lelaki itu hanya mundur dua langkah.

“Ayolah Aya, aku menginginkanmu.” Ganjar maju lagi dan meraih belakang leher Aya. Kembali menempelkan bibirnya di mulut wanita itu. Memainkan lidahnya di mulut Aya untuk menaklukan kewarasan yang ada di dirinya.

Sekuat tenaga Aya kembali mendorong Ganjar. Dia berusaha melepaskan diri dari kungkungan lelaki dengan bentuk wajah round itu. Membebaskan diri dari nafsu liar Ganjar yang sudah mengambil alih jiwanya. Namun, hal itu gagal. Karena lengan Ganjar semakin kuat melingkari tubuhnya.

“Ganjar, lepaskan!” sentak Aya saat ciuman Ganjar beralih ke lehernya. “Aku bakal teriak kalau kamu terus melanjutkan.”

Ganjar seakan tidak peduli. Dengan gerakan kuat, dia malah membuat tubuh Aya setengah telentang di atas meja kerja wanita itu. Kaki Aya tergantung di tepi meja dengan ujung sepatunya yang dua senti lagi mencapai lantai. Mulut Aya dibekam kuat, membuat teriakan wanita itu teredam dan hanya menimbulkan suara yang tidak jelas.

Sudut mata Aya mengalir deras melewati pelipis, melewati sela-sela rambut dan mengalir di relung telinga. Wanita yang baru menginjak usia 26 tahun dua bulan lalu itu merasa takut dan kecewa.

Dengan sebelah tangannya yang bebas, Ganjar berusaha melepaskan celananya dengan buru-buru. Sedikit kesusahan saat membuka kancing rivet di pinggang celana, walau akhirnya terbuka juga. Semua gerakan membuka dan menurunkan celana, menurunkan celana dalamnya, lalu mengangkat rok Aya hingga ke pinggang, dilakukan pewaris perusahaan distributor Indosaka Trijaya Tbk itu dengan satu tangan.

Sejenak Ganjar tertegun memandangi tubuh Aya yang terekspos dari pinggang ke bawah. Semakin memuncakan gairahnya yang kiat membuat matanya kalap.

Dia tidak lagi memandangi wajah tunangannya yang memucat dengan mata bergerak tidak karuan karena ketakutan. Pandangannya sudah ditutupi oleh bira hi yang memuncak.

Saat jemari Ganjar menyusuri perut Aya yang rata dan menyentuh ujung pinggang celana dalamnya, wanita itu mengeluarkan segala kekuatannya yang tersisa untuk berontak. Otaknya tidak boleh lumpuh saat ini, dia harus melakukan sesuatu. Apa saja untuk melawan kekuatan setan yang merayapi tubuh Ganjar.

Aya menendang-nendang, kebanyakan menghantam angin. Menggeliat dan bergerak tidak karuan. Punggung dan pinggangnya terasa sakit, tapi dia indahkan. Ketakutan dan perasaan hancur lebih menguasainya hingga membuatnya mengabaikan rasa ngilu yang menghantam bagian tulangnya.

“Diamlah Aya, ini tidak akan sakit kalau kamu pasrah.”

Aya tidak bergeming. Dia terus meronta. Tangannya yang bebas menghantam-hantam tubuh Ganjar walau sepertinya itu tidak berguna. Dia lalu mengubah strategi, mencubit lengan Ganjar yang keras dan memelintirnya dengan sekuat tenaga. Tangan yang lain mencakar dengan kuku tajam yang menancap kuat.

Sepertinya keberuntungan masih bisa berpihak padanya. Malaikat masih mau membantunya, karena Ganjar berteriak kesakitan dengan aksinya. Cengkraman tangan lelaki itu di wajahnya sedikit melonggar. Membuat Aya memilik sedikit kesempatan untuk menggigit tepi tangan lelaki yang telah dikenalnya selama sepuluh tahun itu.

Ganjar berteriak kuat.

Aya berteriak kuat saat Ganjar menarik tangannya sekuat tenaga, melepaskan diri dari gigi bersihnya yang rapat.

“Tolong! Tolong!”

Tuhan tolong hamba, teriak Aya juga dalam hatinya.

Ganjar kembali bertindak ingin membungkam Aya. Namun, wanita itu bergerak cepat dengan menendang perut lelaki itu dengan sepatu high heels yang runcing.

Ganjar terhuyung. Memandang kalap ke arah perutnya dengan wajah memerah. Amarahnya memuncak.

Dengan cepat Aya bangkit dari meja dan mencoba lari menghindar. Hanya saja Ganjar berhasil kembali menangkapnya.

“Lepaskan aku bajingan!” umpat Aya dengan geram. Dia lalu berteriak lagi, “Tolong!!!”

Ganjar membekap Aya. Merobohkan tubuh wanita berambut sebahu itu ke lantai hingga membuat tubuhnya tengkurap.

“Tolong!”

Ganjar meraih ikat pinggang yang tadi di lepaskannya sembarang di lantai. Melilitkannya di mulut Aya kuat hingga membuat cetakan dalam di pipi Aya, melingkar hingga ke belakang kepala. Rambut Aya yang sudah berantakan sebagian menggembung ketika gesper dikuatkan Ganjar sebagai pengunci belitan untuk membungkam wanita itu kembali.

Tuhan, tolong kirim seseorang untuk membantuku sebelum semuanya hancur.

Kedua tangan Aya dipiting ke belakang. Dia merasa pergelangan tangannya diikat oleh sepotong kain. Begitu erat, sampai-sampai membuat kulitnya terasa pedas.

“Kamu memaksaku untuk melakukan kekerasan, Babe.”

Setelah Aya tidak berdaya, Ganjar melakukan perbuatannya yang tadi tertunda. Menurunkan kembali celana dalam Aya hingga sebatas lutut. Menuntaskan apa yang seharusnya dia lakukan.

Meniduri banyak wanita bukan hal yang baru bagi Ganjar. Dia menyembunyikan perbuatannya itu dari Aya dan keluarganya. Dia terpuaskan dengan semua wanita yang pernah bercinta dengannya. Namun, kali ini rasanya berbeda.

Apa yang diperbuatnya memberikan adrenalin tersendiri. Membuatnya merasa gila dan meledak-ledak tak tertahankan.

Ternyata pemberontakan Aya membuatnya semakin melipatkan gairahnya hingga berkali-kali lipat.

Bukkk.

Bukkk.

Bukkk.

Hantaman yang tidak diduga Ganjar mendarat tiga kali di wajahnya. Bibirnya merasakan asin dan amis secara bersamaan saat cairan kental melewati bibir atasnya, lalu menyapu giginya.

Tubuh terpental ke belakang mendapati serangan yang secara tiba-tiba.

Belum lagi dia menyadari siapa yang telah menyerangnya, tubuh seseorang mendarat di atas dadanya. Membuatnya tersengal dengan napas yang terasa sesak.

Tak lama, bogeman kembali mendarat di wajahnya. Berkali-kali tanpa ampun dan kesempatan untuknya membela diri. Membuat Ganjar merasa pandangannya gelap, berkunang-kunang, hingga dia tidak mampu lagi untuk menegakkan kepala. Dia lunglai. Tak lagi berdaya. Lalu, menyerah pada ketidakmampuan. Tak sadarkan diri.

Wisny lah yang datang menjadi penolong Aya. Menjadi jawaban dari segala doa Aya yang tak henti dipanjatkan dalam hati.

Saat melihat Ganjar pingsan, Wisnu bangkit dari tubuh lelaki tunangan bosnya itu. Dengan napas terengah-engah, mata Wisnu melihat ke sekitar. Mendapati blazer hitam yang menggantung di kursi kerja Aya. Meraihnya dan langsung mendekati Aya. Menutupi tubuh wanita itu yang terbuka.

“Non Aya, tidak apa-apa?”

Pertanyaan konyol, pikir Wisnu. Namun, apa yang bisa dia lontarkan dalam keadaan seperti ini. Hanya itu yang terbersit dalam pikirannya.

Dilepaskannya lilitan ikat pinggang yang mengikat mulut Aya dan kedua tangannya. Lalu, dia mendudukan diri dengan lelah luar biasa di samping tubuh wanita itu yang kini bebas dari semua belenggunya.

Aya tidak bergerak. Seluruh tubuhnya seperti menyatu dengan lantai marmer. Namun, Wisnu tahu wanita  cantik itu masih sadar. Karena ada tangisan kecil yang tertahan, meski beberapa saat kemudian suara itu meraung sejadi-jadinya.

***

“Mbak Aya kok, melamun?”

Suara itu menyadarkan Aya kembali ke masa kini.

Setelah malam itu, Aya memang tidak langsung jatuh hari pada Wisnu. Namun, hal tersebut menjadi awal kedekatan mereka.

“Kamu, baik-baik saja, kan?” tanya Wisnu lagi hati.

Aya tertawa kecil sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Mas, apaan sih, kalau lihat aku melamun dikit, pasti bakal nanya aku kenapa. I’m ok, Mas.”

Kentara sekali Wisnu bernapas lega. “Hanya untuk memastikan,” jawab Wisnu kalem.

Aya menatap Wisnu dalam. Tanpa bersuara, wanita itu mengucapkan kalimat “Aku oke” lagi untuk lebih memastikan.

“Kalau begitu, saya pergi dulu. Kalau ada yang dibutuhkan lagi, panggil saja, Mbak.”

“Mas sendiri bagaimana?” tanya Aya buru-buru. Rasanya enggan baginya melepas kepergian Wisnu begitu cepat.

Interaksi mereka setiap hari hanya seperti ini. Lelaki di hadapan Aya itu terlalu sopan untuk memanfaatkan kedekatan mereka hanya untuk kepentingannya. Dia selalu menjaga jarak dan bertingkah dengan keramahan yang seperlunya.

Cinta ini memang hanya dimiliki oleh Aya sepihak. Wisnu tidak pernah memperlihatkan bahwa dia memiliki perasaan yang sama dengannya. Mungkin karena cintanya yang begitu kuat pada istrinya. Mungkin juga dia seorang lelaki bertanggung jawab yang menjunjung tinggi pernikahannya. Mungkin juga dia adalah tipe setia yang hanya bisa memandang seorang wanita yang telah dinikahinya.

Kecantikan Aya tak jauh berbeda dari istri Wisnu. Wanita itu terlihat lebih cantik hanya karena dia melakukan perawatan rutin yang tak bisa dilakukan Sinta.

Saat bertemu dengan Sinta untuk pertama kalinya, Aya mengakui kecantikan yang dimiliki istri Wisnu itu. Bahkan tanpa perawatan yang memadai, mungkin, wanita yang ingin dijadikannya saudara madu itu sudah begitu cantik. Padahal, gurat-gurat kehidupan keras tergambar samar di wajah.

“Memang apa yang bisa terjadi pada saya?” Wisnu membuat ekspresi kaget dengan pertanyaan Aya terakhir.

“Mas Wisnu ….”

“Saya selalu baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Wisnu menenangkan, disertai senyuman lebar khasnya yang bisa semakin merontokkan hati Aya.

Bukannya Aya tidak mengetahui kesusahan apa yang dimiliki Wisnu. Bahkan dia mengetahui beberapa hari lalu, beberapa orang penagih utang datang ke rumah Wisnu dan berhasil mengambil barang-barang di rumahnya. Wanita itu juga mengetahui apa yang sedang dihadapi Wisnu. Kesusahan ekonomi, utang yang menumpuk, banyaknya pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh karyawannya itu. Namun, lelaki itu tidak pernah terdengar mengeluh. Seolah dia paham, apa yang terjadi di dunia yang dia hadapi hanyalah sebuah peran. Lakon yang telah ditakdirkan untuknya dan dijalani dengan lapang.

Sengaja Aya menyewa seseorang untuk mengamati kehidupan Wisnu dan keluarganya. Dia berharap suatu hari office boy itu akan datang padanya dan meminta pertolongan. Apa saja, wanita yang kini membuat model rambutnya wave tersebut akan membantu tanpa bertanya karena dia sudah tahu. Karena dia berusaha untuk tetap menjaga harga diri Wisnu.

Akan tetapi, hari itu tidak pernah datang.

Wisnu tidak pernah mengungkapkan kesusahannya.

“Mas Wisnu kalau kesusahan bisa datang dan minta tolong sama aku,” ujar Aya dengan wajah serius. “Aku pasti gak akan menolak untuk membantu.”

Wisnu hanya mengangguk. Dia mengusap-usap pinggiran talenan yang dipegangnya. “Aku tau. Tapi kami baik-baik saja.”

Bohong.

Aya merasa kesal dengan kebohongan yang dilontarkan Wisnu. Kenapa dia tidak bisa sekali saja mengeluh dengan kesusahan hidup yang dilaluinya?

“Aku berutang sangat besar sama, Mas.” Aya tetap mendesak. “Dan aku tidak pernah punya kesempatan untuk membalasnya.”

Ketika Wisnu menjadi penyelamat Aya dulu, lelaki itu menolak pemberian bantuan dari Aya ataupun keluarganya. Uang, kenaikan jabatan, semua ditolak halus oleh lelaki bermata lembut itu. Dia hanya mengatakan bahwa dia membantu dengan ikhlas. Perkataannya juga benar-benar terbukti.

Hingga detik ini, Wisnu tidak pernah datang kepada Aya dengan meminta imbalan apapun.

“Kamu sudah jadi lebih baik saja, saya merasa senang,” sahur Wisnu. “Apa yang terjadi pada kamu dulu pasti menyakitkan. Melihat kamu bisa bangkit saja, sudah menjadi rasa syukur buat saya.”

Air mata Aya rasanya ingin mengalir. Bagaimana mungkin lelaki baik di depannya itu begitu tulus memperhatikannya. Seandainya saja ada perasaan lebih untuknya.

Beberapa saat terjadi kebisuan, dehaman kecil terdengar dari Wisnu. “Sudah, Mbak tidak usah memikirkannya lagi. Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Saya permisi, ya? Sementara, tidak ada lagi yang Mbak butuhkan, kan?”

Merasa tak ada lagi yang bisa membuat Wisnu tetap bertahan di dalam kantornya, Aya menjawab Wisnu dengan anggukan. Lelaki itu undur dari dengan anggukan kecil. Berjalan tanpa berbalik lagi menuju pintu ruangan dan menghilang di baliknya.

Menyisakan rasa tidak rela di hati Aya.

***

[Sudah Mbak pikirkan?]

[Bagaimana keputusannya?]

Sinta membaca pesan WhatsApp yang baru saja dibukanya. Pesan dari Aya yang diberi nama Sundal di kontak ponselnya.

Kejadian satu minggu lalu terbayang kuat di memori Sinta. Saat Aya menawarkan semua kekayaannya padanya dengan imbal balik berbagi suami.

Saat ini pikiran Sinta sudah benar-benar buntu. Sudah banyak embusan sesak yang diembuskannya untuk menghalau segala ganjalan di dada. Namun, masalah hidup terus menempel kuat di dalam hatinya. Tak ingin hengkang, terus mengakar kuat hingga menggerogoti jiwanya.

Apa tawaran si Sundal itu bisa menjadi jalan keluar?

Kesulitan ekonomi yang tak pernah berkurang dan malah kian bertambah membuat otak Sinta kusut.

Hidup sungguh berat untuknya. Dan dia merasa goyah.

Dia mencintai Wisnu, sampai sekarang pun masih. Walau kadar cinta itu rasanya seperti berkurang. Selalu ada keributan dengan uang yang tidak cukup. Kepuasan yang tidak pernah terpenuhi. Anak yang merengek minta jajan yang tidak bisa dikabulkan. Melihat tubuh kurus anak-anaknya yang memang tidak terpenuhi gizi. Wisnu yang jarang di rumah karena selalu bekerja dan penghasilan tetap saja masih kurang.

Apa ini jalan keluar yang diberikan Tuhan padanya?

Bagaimana bisa? 

Tapi ….

Sinta mematikan ponsel dan melemparnya asal di atas kasur yang tidak pernah diganti sejak dibeli sembilan tahun lalu. Di bagian tepi kasur itu sudah ada per yang menyembul. Bahkan saat direbahi, per tersebut menimbulkan bunyi yang berisik. Apalagi saat dia dan Wisnu memadu cinta di malam hari.

Sinta sering takut, bunyi itu membuat anak-anaknya terbangun karena kegaduhan yang ditimbulkannya dan mendapati anak-anaknya menggedor pintu mereka karena mencari asal suara.

Sinta berdiri dari duduknya di atas kasur dan mengikat asal rambutnya. Diusapnya wajah dan tengkuk yang basah oleh keringat. Udara siang ini begitu panas. Bahkan kipas angin kecil yang duduk manis di meja samping kasurnya, tidak bisa mengusir hawa panas yang menembus seng-seng rumah, tak bisa diredam oleh plafon yang mulai rapuh.

Menyibak gorden yang membatasi kamarnya, Sinta mendapati ruangan yang lowong. Hanya ada karpet yang warnanya sudah memudar di sana dan lemari hias kecil yang kayunya sudah mulai lapuk, serta meja kayu yang dibuat Wisnu yang sebelumnya bertengger televisi 24 inchi dan kini sudah ditarik oleh Pak Kasam.

Sinta merasa tubuhnya lemas lagi. Disandarkannya tubuhnya di dinding kalsibot tanpa cat, yang baru diganti suaminya enam bulan lalu. Menggantikan triplek yang sudah banyak bolong dan hanya ditambali kertas-kertas bekas.

Sinta kembali menangis, merasakan hatinya hancur menyaksikan semuanya.

Sampai kapan harus begini? 

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

Status: Ongoing Author: Artist: Dirilis: 2024 Native Language: Indonesia
Sinta sudah lelah jadi miskin. Hidup serba kekurangan dan selalu menahan diri dari apa yang diinginkan. Dia ingin berubah, jelas. Namun, dia bisa apa. Tidak punya pengalaman kerja dan ijazah. Saat usia 17 tahun, dia memilih untuk berhenti sekolah dan menikah dengan lelaki yang dipacarinya sudah satu tahun. Pernikahan mereka karena cinta, karena itu Sinta rela mengorbankan masa depannya. Menikah dengan lelaki yang baru lulus SMA dan langsung bekerja sebagai office boy di perusahaan swastaswasta, Wisnu. Jangan salah, Wisnu lelaki baik, penyabar, dan sangat mencintai Sinta. Akan tetapi, ternyata hidup tidak cukup hanya dengan cinta. Butuh biaya yang semakin tahun kian mencekik. Cinta bisa terkikis ketika utang makin menumpuk dan biaya hidup jarang mencukupi. Sinta lelah dan dia sudah muak dengan hidupnya. Jalan keluar itu lalu ada. Seorang wanita datang untuk memintanya berbagi suami. Namanya Aya Ayudia Wicaksono. Wanita kaya yang jatuh cinta pada suaminya itu, mampu memberikan kemewahan yang sudah lama diimpikan Sinta. Dia juga berjanji, bersedia menjadikan Sinta Ratu dan dia hanya sebagai selir, selalu menjadi nomor dua. Kekayaan Aya adalah kekayaan yang bisa dinikmati oleh Sinta juga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset