Switch Mode

BAB 3

BAB 3

“Lho, kenapa mobilnya, Mbak?” Wisnu menurunkan standar motornya dan turun tergesa-gesa mendekati Aya sambil melepas helm yang dikenakan dan mencangklongnya di spion motor.

Wajah wanita itu tampak terkejut bercampur lega. “Mogok Mas Wisnu, tapi aku gak paham kenapa.”

Wisnu menggaruk-garuk rambutnya yang lembab dan tidak gatal. “Sudah telpon bengkel, Mbak.”

“Aya.” Sempat-sempatnya wanita itu mengoreksi panggilan Wisnu. “Ini sudah di luar kantor dan bukan jam kerja. Mas Wisnu udah gak punya alasan lagi bersikap formal.”

Wisnu hanya meringis. “Sudah telepon?” tanya Wisnu lagi.

“Udah, katanya tadi dalam perjalanan,” jelas Aya. “Tapi kan, Mas tau kalau sore pasti macet. Bisa-bisa sampai sini lambat.”

Wisnu mengangguk lambat. Kepalanya memperhatikan mobil dengan serius seakan memikir sesuatu. “Gimana ya, saya juga gak paham kalau mesin mobil.”

“Ya, gak gimana-gimana, Mas, kan tinggal tunggu.” Aya berusaha menenangkan hati Wisnu yang terlihat tidak enak.

“Tapi, kamu kan jadinya menunggu sendirian di sini.”

“Kalau gitu, gimana kalau Mas Wisnu aja yang ngantarin aku?” Aya mengusulkan dengan mata cemerlang menatap Wisnu, seolah itu adalah ide brilian.

“Eh.”

Aya tahu lelaki di depannya itu bingung dan mungkin dia malah menolak untuk mengantarkannya. Karena itu dia maju selangkah untuk semakin meyakinkan. “Mas, semenjak kejadian itu aku gak pernah lagi naik taksi sendirian. Mama Papa yang gak bolehin dan percaya orang lain. Aku bisa aja nekat manggil taksi atau pilihan tepatnya nunggu jemputan di sini. Tapi itu pasti sama aja lamanya dengan nungguin bengkel datang.”

“Kalau kamu naik taksi dan aku ikutin di belakang gimana?” usul Wisnu.

Aya menggeleng kuat. “Tetap sama seperti aku naik taksi sendiri. Orang tuaku gak Bakan ijinin.”

“Tapi kalau aku yang ngantar gak enak, lho, Ya,” kata Wisnu. “Ntar apa kata orang. Lagian, naik motor bisa bikin kamu kotor.

“Aku bisa mandi kalau sudah di rumah, Mas. Dan gak usah dengerin apa kata orang.”

“Gimana, ya,” ujar Wisnu ragu. Dia mengalihkan pandangan ke arah motor tuanya.

“Anggap aja aku pelanggan ojek Mas lah, gak usah mikir macam-macam.” Aya langsung berjalan menuju pintu mobilnya. Mengambil tas kecil dan tas laptop di dalamnya, lalu kembali mendekati Wisnu. “Aku sudah siap.”

Sedari tadi Wisnu memandangi Aya yang bergerak dengan wajah bengong, lalu tersadar kembali saat bosnya itu kembali ke hadapannya. “Kamu yakin mau naik motorku?” Wisnu kembali mencari alasan untuk tidak mengantar Aya.

Bagaimana pun, Aya bukan pelanggan biasa yang biasa diantarnya saat melanjutkan kerjaan tambahan sebagai ojek online. Wanita di hadapannya itu bosnya dan mereka berhubungan dengan baik sebagai kenalan.

“Aku bakal bayar Mas karena udah ngantar aku.”

“Bukan gitu,” Wisnu menyanggah. “Kamu gak perlu bayar kalau aku mengantar.”

“Kan, aku pelanggan Mas, jadi harus bayar lah.”

“Kamu bukan sekedar pelanggan.”

“Apa saja aku buat Mas boleh yang penting aku cepat pulang. Udah capek, Mas.” Jadiin istri juga boleh kok, Mas Wisnu.”

Merasa tidak punya cari lagi buat menolak, akhirnya Wisnu mengangguk. Dengan ragu.

Saat Wisnu menyerahkan helm ke tangan Aya dan memperhatikan wanita itu memakainya, dia menunggu dengan sabar gerakan Aya yang kesulitan memasang chain strap.

“Mas, ini gimana makainya?” Kata Aya setelah beberapa saat tak kunjung juga berhasil menyatukan pengunci tali pengaman helm itu. “Bisa minta tolong bantuin make?”

Wisnu mendesah pelan. Turun dari tunggangannya dan menghadap Aya. Menyatukan ujung-ujung chain strap dengan mudah hingga terdengar bunyi klik.

Aya tersenyum lebar saat Wisnu berbalik dan menaiki motor. Meski beberapa detik kemudian langsung berusaha disembunyikannya agar tidak terlihat lelaki itu. Memutari setengah bagian belakang motor dan duduk menyamping karena dia hanya mengenakan rok pendek di atas lutut. Memegangi bagian jaket lelaki itu saat motor mulai berjalan dan merasakan gelenyar aneh di dalam dadanya.

Berhasil.

***

“Gak mampir dulu, Mas?” tanya Aya saat mereka sudah ada di depan rumah wanita itu. “Ayah sering nanyain kamu, lho, dan pengen ketemu.”

Semenjak Aya resmi mengambil alih perusahaan, Bagas memang jarang sekali datang ke perusahaan. Lelaki yang sebentar lagi menginjak usia 60 tahun itu menikmati masa pensiunnya dengan menghabiskan waktu di rumah, di rumah perkebunan atau sekedar jalan-jalan ke luar kota atau negeri dengan istrinya.

“Lain kali saja, Ya. Saya harus kerja lagi,” tolak Wisnu dengan halus.

“Bentaran doang, tanggung udah depan rumah,” kata Aya membujuk. “Lagian ayah tau kalau Mas Wisnu yang antar aku.”

Tak bisa menolak, akhirnya Wisnu menyetujui usulan Aya. Wanita itu duduk kembali di boncengan Wisnu saat gerbang rumah terbuka dan mengantar mereka sampai di depan rumah.

Dengan luwes Aya mengajak lelaki itu memasuki rumahnya dan membawanya hingga ke ruang keluar yang terhubung dengan taman samping rumah.

Seperti dugaan Aya, lelaki dengan rambut kelabu itu sedang duduk santai dengan ibunya di sofa ruang keluarga yang menghadap televisi yang sedang menyala.

“Ayah, Bunda, ada Mas Wisnu,” sapa Aya dan menyatakan kehadiran lelaki yang bersamanya seolah keberadaannya hal biasa.

Bagas dan Arum menoleh dengan diikuti senyuman lebar. Keduanya berdiri dan melangkah untuk menyambut Wisnu.

Melihat tersebut, Wisnu langsung buru-buru mempercepat langkahnya dengan gerakan sopan. Mengulurkan tangan dengan kepala dianggukan santun.

“Apa kabar Pak Bagas, Bu Arum.”

“Beginilah kami,” kata Bagas terkekeh setelah mereka berjabat tangan. “Hidup sekarang jadi lebih santai. Ternyata jadi pengangguran tidak jelek juga.”

Wisnu ikut tertawa kecil membalas kelakar Bagas.

“Kamu sendiri apa kabar? Sudah lama kita tidak ketemu.”

“Begini juga lah saya, masih berjuang.”

Bagas menepuk-nepuk pundak Wisnu. “Ayo duduk-duduk dulu,” ajak Bagas.

“Maaf, Pak,” ujar Bagas dengan nada tidak enak, “saya masuk hanya ingin menyapa saja. Saya masih harus kerja lagi soalnya.”

“Kok buru-buru toh Nak Wisnu,” kata Arum yang kini digelayuti oleh Aya. “Kita ngobrol-ngobrol dulu lah. Sudah lama loh kamu tidak ketemu kami.”

“Masih kejar setoran Bu Arum.” Wisnu terkekeh dan berusaha bercanda. “Lain kali saya pasti datang lagi kalau diijinkan.”

“Kamu tiap kali selalu janji mau datang, tapi gak pernah nongol juga,” ucap Arum. Namun, sebenarnya dia tidak ingin juga menahan lelaki sopan yang membuatnya kagum dulu karena pernah menolak pemberian dari keluarganya.

“Sibuk kerja sana-sini, Bu,” jelas Wisnu, padahal dulu dia pernah bercerita tentang double job yang dia lakukan. “Biar kebutuhan keluarga terpenuhi.”

“Tawaran naik jabatan masih selalu berlaku buat kamu, lho, Wis,” kata Bagas penuh harap. “Kamu tinggal ngomong, saat itu juga kamu bakal di mutasi ke posisi yang lebih baik.”

“Makasih Pak,” sahut Wisnu. “Tapi saya merasa tidak pantas dengan kemampuan saya.”

“Saya yakin kamu pasti bisa,” sanggah Bagas. “Tinggal kamunya saja lagi yang ingin atau tidak meningkatkan kemampuan.”

Wisnu hanya mengangguk tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi untuk berkilah.

“Gimana kalau mulai besok, aku pilih seseorang buat ajarin Mas Wisnu administrasi pelan-pelan, Yah?” Tiba-tiba saja Aya nyeletuk. Semua orang memandang ke arahnya.

“Mas Wisnu mungkin bisa mempelajarinya selama satu atau dua jam setiap harinya, dan masih dalam jam kerja. Tar aku pilih siapa gitu, buat ngajarin,” lanjut Aya lagi.

Bagas manggut-manggut, “Boleh itu. Kalau Wisnu sudah pandai dan sudah merasa pantas, pasti tidak bisa lagi menolak naik jabatan.”

Wisnu terperangah dan menggaruk-garuk rambutnya. Dia merasa semakin tidak enak.

“Sebaiknya jangan Mbak Aya,” sanggah Wisnu. “Saya gak ingin merepotkan orang lain.”

“Nanti Ayah akan menghubungi Trio untuk bantu Wisnu.” Bagas mengindahkan perkataan Wisnu. Trio sendiri adalah mantan asisten Bagas selama memimpin perusahaan dan kini juga menjadi asisten Aya. Meski begitu, keberadaan Trio bukan hanya sebagai asisten, tetapi juga tangan kanan dari keduanya untuk mengurus banyak hal.

“Nah, Wisnu, kali ini kamu tidak bisa menolak,” Bagas menelengkan kepalanya ke arah Wisnu. “Kamu menolak jabatan dan materi karena tidak ingin mendapat imbalan atas kebaikanmu. Tapi kamu tidak mungkin menolak jika ada seseorang membantu kamu upgrade diri, bukan?”

Susah payah Wisnu menelan ludah melalui tenggorokan yang terasa kering. Namun, dia sendiri tidak bisa berkata apa-apa untuk menolak atau menyetujui usulan tersebut.

Lagipula, meningkatkan kemampuan diri tanpa meninggalkan pekerjaan yang dia lakukan karena tuntutan kehidupan adalah sebuah impian. Dia sudah lama sadar, jika ingin hidup berubah dia harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan value dirinya.

Aya memandangi Wisnu yang terdiam dengan raut wajah bingung. Entah kenapa tidak sedari dulu ide ini datang di kepalanya, tetapi baru satu bulan ini.

Pikiran ini sudah berapa kali ingin diungkapkannya kepada Wisnu, walau dia ragu akan ditolak lagi oleh lelaki itu.

Wisnu selalu meyakinkan padanya, apa yang diperbuatnya bukan apa-apa sehingga patut diganjar oleh materi dan jabatan. Lelaki itu terlalu takut keikhlasannya membantu akan ternodai oleh hal tersebut.

Mengatakan usul ini di hadapan kedua orangtuanya hanya agar Wisnu tidak bisa melakukan penolakan. Walau tetap ada keraguan di hati Aya, kalau lelaki beranak dua itu tetap akan menolak.

Sebelum Aya menawarkan uang dan posisi yang bagus kepada Wisnu setelah peristiwa tersebut, Bagas juga berulang kali mendapat penolakan yang sama. Alasannya pun juga sama.

Akan tetapi, usul kali ini berbeda. Dan Aya merasa bangga pada dirinya karena berhasil memikirkan hal tersebut.

Saat dia mengantarkan Wisnu di depan pintu, Aya mengantarkan kepergian Wisnu dengan hati sangat puas dan bahagia.

Seluruh rencananya berhasil hari ini.

Pura-pura mobil rusak padahal dia sengaja berhenti dan meminta supir rumahnya untuk mengambil mobilnya kemudian. Menunggu lelaki itu di jalan yang biasa dilaluinya dan melakukan drama seperti tadi.

Lalu, mengusulkan agar lelaki itu menerima bimbingan agar kemampuannya semakin meningkat. Dan itu pun dari seseorang yang terbaik. Agar suatu hari, lelaki itu bisa datang padanya untuk melamar pekerjaan yang lebih baik lagi dan dia akan menerimanya dengan senang hati tanpa melalui tes apapun jika perlu. Kendatipun rencana itu harus dipupusnya.

Wisnu lelaki yang punya harga diri tinggi. Dia pasti tidak suka keberhasilannya karena orang dalam. Semua harus sesuai dengan kemampuannya agar dia bisa berbangga diri.

Aya menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju tangga rumah yang membawa pada kamarnya. Dalam pikirannya, dia mencentang list-list rencana dengan icon senyum lebar dengan ujung bibir menyemburat merah.

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

Status: Ongoing Author: Artist: Dirilis: 2024 Native Language: Indonesia
Sinta sudah lelah jadi miskin. Hidup serba kekurangan dan selalu menahan diri dari apa yang diinginkan. Dia ingin berubah, jelas. Namun, dia bisa apa. Tidak punya pengalaman kerja dan ijazah. Saat usia 17 tahun, dia memilih untuk berhenti sekolah dan menikah dengan lelaki yang dipacarinya sudah satu tahun. Pernikahan mereka karena cinta, karena itu Sinta rela mengorbankan masa depannya. Menikah dengan lelaki yang baru lulus SMA dan langsung bekerja sebagai office boy di perusahaan swastaswasta, Wisnu. Jangan salah, Wisnu lelaki baik, penyabar, dan sangat mencintai Sinta. Akan tetapi, ternyata hidup tidak cukup hanya dengan cinta. Butuh biaya yang semakin tahun kian mencekik. Cinta bisa terkikis ketika utang makin menumpuk dan biaya hidup jarang mencukupi. Sinta lelah dan dia sudah muak dengan hidupnya. Jalan keluar itu lalu ada. Seorang wanita datang untuk memintanya berbagi suami. Namanya Aya Ayudia Wicaksono. Wanita kaya yang jatuh cinta pada suaminya itu, mampu memberikan kemewahan yang sudah lama diimpikan Sinta. Dia juga berjanji, bersedia menjadikan Sinta Ratu dan dia hanya sebagai selir, selalu menjadi nomor dua. Kekayaan Aya adalah kekayaan yang bisa dinikmati oleh Sinta juga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset