Switch Mode

BAB 4

BAB 4

Sinta menghitung uang di dompetnya dengan cepat. Bukan karena buru-buru, tetapi karena lembarannya memang sangat tipis.

Setelah menghitung berulang kali, akhirnya wanita itu harus pasrah dengan hasilnya yang memang sedari awal tidak mungkin berubah.

Baru satu juta uang yang terkumpul, dan dalam dua hari ke depan, dengan cara apapun harus bisa mencapai tiga juta. Dia juta untuk membayar Pak Kasam, sedang satu juta lagi untuk menutupi utang online. Itu pun perhitungan tanpa melibatkan pengeluaran makan, bensin Wisnu, dan jajan anaknya.

Sinta mendesah kuat. Rasa kalut semakin menjadi-jadi meliputi kepalanya. Ingin menangis, sedari tadi tak ada tetes-tetes bening yang keluar.

Saat ini dia berada di dapur, memandangi dapur yang sudah bersih dan kompor yang tidak menyala.

Tadi dia memeriksa persediaan beras yang disimpannya di ember tertutup agar tidak mudah dijangkau tikus sialan. Hanya tersisa satu gelas lagi di sana. Hari sudah beranjak siang, belum ada masakan yang dihidangkannya. Joshuan sebentar lagi pulang dari sekolahnya. Pasti dia kelaparan dan tak ada makanan yang bisa dia berikan untuk saat ini. Mana beberapa hari ini anak itu tidak pernah lagi diberi jajan.

Pagi tadi dia hanya menyajikan nasi goreng putih tanpa lauk untuk anaknya, sisa nasi kemarin. Itupun begitu sedikit, tidak bisa memenuhi empat orang manusia yang tinggal di rumah ini.

Wisnu yang mengalah pagi ini, sama seperti pagi sebelumnya. Lelaki itu hanya mengisi perutnya dengan secangkir teh dengan gula sedikit. Bukan karena gula juga sudah habis, tetapi suaminya itu memang tidak terlalu suka dengan rasa teh yang manis.

Sinta menimbang-nimbang untuk mengeluarkan uang yang ada di tangannya untuk keperluan makan hari ini, tapi itu berarti uang yang dikumpulkannya akan berkurang. Bagaimana untuk membayar utang nanti?

Pak Kasam sudah mewanti-wanti agar Sinta membayar utangnya atau kalau tidak, televisi yang dijadikan jaminan tidak akan kembali, utang tidak berkurang dan malah menambah bunga yang semakin mencekik.

Berutang pada tetangga yang punya toko sembako kecil milik Bu Darmi, tetangganya, juga tidak bisa menjadi solusi. Dia juga punya deretan utang yang belum dibayar. Belum tentu wanita itu bisa memberi iba lagi padanya.

Aduh, Mas Wisnu, kapan kita bisa terbebas dari masa sulit ini.

Sinta mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Merasa delima dengan keputusan yang harus diambil.

Berjalan gontai, Sinta menuju kamarnya dan meraih ponsel yang ada di meja kecil samping tempat tidur. Dia terpikir untuk menelepon suaminya dan mengeluhkan sesak yang merajai hatinya. Lelaki itu harus tahu apa yang membuatnya bingung dalam mengatur uang, bukan hanya bisa memberi tetapi tidak memikirkan kekurangan yang ada. Enak dirinya kalau begitu, tidak memiliki pikiran untuk mengatasi minusnya keuangan yang ada.

Jempol Sinta mengambang di atas ponsel yang sudah memampangkan nama Ayah Joshua. Sekelebat saja dia ragu untuk menelpon. Pikiran yang entah datang darimana menegurnya, mengatakan bahwa selama ini Wisnu lah yang mati-matian memenuhi kekurangan yang ada. Bahkan lelaki itu tak lelah bekerja dari pagi hingga hampir tengah malam. Dia tidak hanya berpikir, tetapi juga berjuang mencari solusi.

Akan tetapi, dengan semua kekurangan yang ada, Sinta tak kuasa menahan amarah di dadanya. Menyalahkan semuanya kepada Wisnu yang tak becus mencari nafkah.

Sikapmu tidak adil, Sinta, hati kecil wanita itu berkata. Namun, perasaan itu segera ditepisnya. Memang Wisnu lah yang tidak hebat berjuang untuk memenuhi kebahagiaan dalam keluarga kecil mereka.

Sinta akhirnya menelepon Wisnu. Dering tunggu terdengar dan beberapa menit kemudian diangkat.

“Assalamualaikum, Ma?” sapa Wisnu di ujung saluran.

“Walaikumsalam,” sahut Sinta ketus.

“Semuanya baik-baik saja?” tanya Wisnu. Pertanyaan yang membuat Sinta ingin berteriak sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja.

“Uang yang kita kumpulkan baru satu juta buat bayar Pak Kasam,” kata Sinta datar. “Masih perlu satu juta lagi, padahal dua hari hari lagi kita mesti bayaran.”

“Insha Allah akan ada jalannya, Ma.”

“Yakin? Itu uang yang banyak.” Nada suara Sinta mulai meninggi. “Kamu ngojek aja beberapa hari ini cuma dapat seratusan. Apa bisa?”

“Aku bakal cari cara lain, kamu gak perlu khawatir,” ujar Wisnu menenangkan.

“Hari ini juga beras habis, minyak, bumbu-bumbu dapur, aku bingung mau menggunakan uang ini. Kamu jangan cuma janji-janji!”

Helaan napas panjang menyapu pendengaran Sinta. Hatinya beriak, bisa-bisanya lelaki yang sudah dinikahinya selama sebelas tahun ini mengungkapkan dengan samar bahwa dia lelah. Dia lah yang lebih atas segalanya, dia yang pantas untuk menghela napas panjang.

“Mama yang tenang ya,” kata Wisnu. “Pakai saja uang yang ada untuk membeli kebutuhan dapur seperlunya. Nanti pulang aku ganti, sekalian menambah uang yang perlu dikumpulkan.”

“Kamu dengar yang aku bilang tadi, gak, sih?” kata Sinta tajam. “Uang kita itu masih kurang buat bayar utang. Kalau uang ini dipakai, gimana entar menutupi kekurangannya? Kamu yakin kamu bisa?!”

“Iya, aku dengar dan paham,” ujar Wisnu lagi dengan intonasi suara yang masih tenang. Harus Sinta akui, suaminya itu tidak mudah tersulut kemarahan. “Kamu pakai saja uang itu, ya, buat masak. Bentar lagi Jo, kan, pulang. Kasian ntar kalau dia lapar. Masalah uang, biar itu jadi urusanku.”

“Bagaimana bisa hanya jadi urusanmu, kalau aku yang selalu menghadapi para penagih utang,” desis Sinta.

Tanpa salam, wanita yang masih merasa kesal itu mematikan panggilannya.

***

Malamnya, saat Wisnu dan Sinta berada di dalam kamar, Wisnu menyerahkan uang yang didapatnya hari ini kepada istrinya. Ada tiga lembar uang yang diberikan, dua lembar bernilai seratus ribu dan satu lembar uang 50 ribu.

“Maaf ya, Ma, cuma ini yang bisa didapat,” kata Wisnu. Dalam hatinya berharap senyum menenangkan dari Sinta. Namun, sudah lama hal itu tidak pernah lagi dia nikmati. Bilangan bulan? Setahun terakhir ini mungkin.

Dengan malas Sinta menarik uang itu dari suaminya. Menatap lembaran itu dengan kecewa. “Hanya segini kamu berani janji biar aku gak usah khawatir,” kata Sinta sinis.

“Besok aku akan lebih berusaha lagi.” Wisnu melebarkan bibir saat istrinya menatapnya. Dia ingin memberi semangat dan isyarat bahwa mereka pasti bisa melalui semua masalah ini.

Akan tetapi, Sinta malah menanggapinya dengan melengos. Uang yang dibawa Wisnu setiap hari hanya bisa menyulut hatinya karena selalu kurang. “Berusaha mulu dari dulu, suksesnya nggak.”

“Sabar, Ma,” ujar Wisnu menenangkan. “Allah belum kasih kita rejeki untuk berlebih. Ini ujian berat bagi kita yang harus dilalui dengan ikhlas.”

“Dari dulu ujian, tapi gak pernah lulus-lulus,” pekik Sinta. “Aku ini sudah terlalu lelah, Wisnu! Aku sampai pernah berpikir, menyesal dengan pernikahan kita.”

“Sinta!” hardik Wisnu, tanpa sadar meninggikan suaranya.

“Aku ngomong apa adanya!” Suara Sinta semakin tinggi. “Kamu gak becus membahagiakanku, anak-anak kita. Gajimu selalu kurang memenuhi kebutuhan kamu!”

Bulu kuduk Wisnu meremang mendengarkan perkataan Sinta. Setelah semua yang diperjuangkan, waktu dan tenaga, Sinta tak pernah merasa puas pada dirinya.

Seandainya Wisnu ingin mengeluarkan semua bebannya, wanita di hadapannya itu akan mendapati semua kesalahan itu berasal darinya sendiri.

Seharusnya apa yang didapat Wisnu sudah lebih daripada cukup. Gaji UMR, belum lagi penghasilan tambahan di luar kerja utamanya. Tak ada waktu libur bagi Wisnu. Senin sampai Minggu, selesai kerja mejandi office boy harus disambung lagi dengan kerjaan lain sebagai ojek online hingga jam sepuluh malam. Semua itu untuk istrinya, keluarganya. Apalagi yang bisa dikorbankannya, waktu istirahatnya yang sedikit?

Bahkan, dia sudah sangat jarang bercengkrama dengan anak-anak yang dibanggakannya. Hanya pagi yang dia maksimalkan berinteraksi dengan Joshuan dan Aulia, agar dia dapat bisa mengisi kekosongan figur yang tidak didapat kedua anaknya itu karena sibuk bekerja.

Namun, Wisnu bukan sosok yang bisa mengeluh seperti itu dan menimpakan kesalahan sesungguhnya di hadapannya istrinya. Dia hanya diam dan memikul sendiri beban di pundaknya.

Wisnu menarik napas panjang dan menggeser tubuh makin mendekati istrinya. Dicobanya untuk meraih Sinta dalam pelukan, meski wanita itu meronta. Dia tetap bertahan. Hingga akhirnya Sinta luluh dan menangis di dadanya.

“Semuanya akan baik-baik saja, Ma. Percaya padaku,” bujuk Wisnu. “Suatu hari, kita akan tersenyum penuh kegembiraan.”

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

ISTRI KEDUA YANG KUPILIHKAN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset